Tidak Nyaman di NasDem, Wakil Bupati Jayapura Pindah ke PKB

0
34

SENTANI, reportasepapua – Setelah mengundurkan diri dari Partai Nasional Demokrat (NasDem), Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro akhirnya berlabuh ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Tak lama setelah mengundurkan diri dari Partai NasDem, Giri pun diusulkan sebagai ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Jayapura.

“Kalau kita lihat ‘lompat pagar’ atau (pindah haluan ke PKB) dari sudut pemerintahannya, saya kira itu bagus ya. Bukan berarti negatif karena memperkuat kursi di DPRD, yang tadinya empat dukungan sekarang menjadi tujuh (kursi) dengan tambahnya saya ada di PKB. Jadi saya kira di legislatif makin bagus dan kuat,” kata Giri Wijayantoro kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna LKPJ Bupati Jayapura Tahun Anggaran 2020, di Ruang Sidang Kantor DPRD Kabupaten Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (8/6/2021).

Ia menegaskan, sikapnya untuk loncat dari Partai NasDem ke PKB ini, karena dirinya berpikir untuk masa depannya yang lebih baik lagi dan dirinya merasa tidak nyaman kalau masih tetap bertahan di partai besutan Surya Paloh itu.

“Tetapi kalau untuk pemikiran ke depan ya, saya kira masa depan saya juga harus berpikir baik. Jadi saya harus bersikap tidak juga harus bertahan dengan saya tidak merasa nyaman. Kalau memang tidak nyaman, ya ngapain saya harus bertahan. Saya tidak nyaman di Partai NasDem dan kalau tidak nyaman ngapain juga saya harus bertahan,” ujarnya.

Disinggung mengenai alasan kepindahannya ke PKB, karena tidak merasa nyaman di Partai NasDem sejak akhir tahun 2020 lalu.

“Ya, saya tidak nyaman di NasDem, sehingga saya memilih pindah partai. Saya sudah sampaikan di akhir tahun kepada Bupati, bahwa ternyata memang tidak ada yang dia perbaiki, ya terpaksa saya harus bergeser untuk berpikir masa depan saya,” katanya.
Namun, lebih lanjut ia menyampaikan, dirinya tidak bisa bertahan terus dengan orang-orang yang bersifat toxic relationship yang ada di dalam Partai NasDem.

“Ndak mungkin saya harus bergabung dengan (orang) yang toxic relationship ya. Artinya, orang-orang yang beracun buat saya dan saya tidak boleh ragu untuk mengambil satu sikap. Apapun resikonya saya siap untuk hadapi, termasuk mungkin seperti di DPRD kan itu harus di PAW kalau pindah partai,” katanya.

Ia mengaku tidak takut dirinya dipecat sebagai orang nomor 2 di Kabupaten Jayapura dari Partai NasDem, yang telah memuluskan jalannya jadi wakil bupati Jayapura.

“Kalau memang di wakil bupati itu (pemecatan) boleh terjadi, kenapa kita harus takut dengan sikap kita sendiri. Karena memang kita harus paham membangun satu negara atau pemerintahan, ya itu harus dari satu kekompakan. Tetapi, saya selalu berdiri tegar untuk selalu membantu bupati untuk mensukseskan program-program yang ada tanpa harus kita melihat persoalan ke dalam,” ujarnya.

Menurut Giri, negara dan pemerintahan itu harus elegan. Jangan kita terpecah belah karena kepentingan lainnya. Ada waktunya untuk kita bisa mengambil sikap agar lebih elegan, lebih bagus dan menjadi contoh yang bagus buat masyarakat kita di daerah ini.

“Kalau sebagai wakil bupati, saya kira jamannya (Alm) Roberth Djoensoe (Wakil Bupati Jayapura sebelumnya) sudah tergambar, begitupun di jamannya saya lebih parah lagi. Nah, itu tidak perlu kita malu lagi karena memang kepemimpinannya seperti itu dan kita ingin merubah yang lebih baik lagi,” tuturnya.

“Lebih baik saya tidak bergabung atau memilih keluar dari NasDem, dan itu tidak menggangu komunitas yang ada atau yang sudah mereka bangun saat ini. Ya, jelas lah saya pindah partai ini karena sebagai bentuk perlawanan saya. Karena saya merasa tidak nyaman, itu gak bagus bagi saya kalau tetap bertahan di partai NasDem. Saya kira kita sudah banyak melihat ya, termasuk kabinet di pemerintahan ini harus diperbaiki ke depan. Tidak boleh lah kalau keluarga terlalu ditonjolkan, itu gak bagus juga loh,” ujar Giri Wijayantoro. (Irfan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here