Paul Leo Ungkap Fakta Baru Terkait Pembangunan Gedung Gereja Katolik Sang Penebus

SENTANI, Reportasepapua.com – Menanggapi klarifikasi oleh Pastur dan Dewan Paroki serta Panitia Pembangunan Gereja Katolik Sang Penebus Sentani soal pernyataan keras yang dimuat media ini terkait dengan pembangunan gereja, Paul Leo kembali bersuara.

Paul Leo mengungkapkan bahwa dirinya sangat menyesalkan mengapa dalam konferensi pers yang dilaksanakan di lokasi pembangunan gereja, Selasa (21/04) untuk mengklarifikasi pernyataan yang dirinya buat tersebut tidak menghadirkan 4 actor utama dari pembangunan gedung gereja tersebut.

 “Kenapa dalam konferensi pers yang dibuat untuk mengklarifikasi pernyataan saya itu actor utamanya tidak muncul. Mereka justru menghadirkan orang-orang yang tidak berkompeten. Seperti Pastur Broery, Carlos (Ketua Dewan Paroki, Red) dan Herald Berhitu. Itukan orang-orang yang tidak berkompeten” ungkapnya, dalam sambungan telepon, Kamis (23/04).

Paul mengatakan, akibat dari tidak dihadirkannya actor utama dari pembangunan gereja tersebut apa yang dikatakan oleh Pastur Broery, Carlos dan Herald jadinya ngelantur dan hanya akan buang-buang waktu.

Menurut Paul, jika Pastur Norbertus Broery Renyaan berbicara tentang tata liturgi peribadatan di gereja Katolik itu tidak menjadi soal, tetapi Paul mempertanyakan apakah mampu seorang pastur berbicara tentang laporan keuangan yang terkait dengan struktur bangunan?

“Itu munurut saya nonsense dan dipastikan jauh diluar jangkauannya. Apalagi hanya dalam beberapa hari. Jika kita bicara fakta dilapangan, bangunannya baru berupa tiang-tiang saja dan waktu pengerjaannya sudah berjalan selama kurang lebih 2 tahun sejak peletakan batu pertama pada bulan Mei 2018 dan dana yang dipakai untuk membangun pondasi dan tiang-tiang pancang itu sudah habis kurang lebih Rp. 9 Miliar” ujarnya.

Sedangkan dana yang tersedia sepengetahuannya adalah Rp. 13 Miliar dari total dana perencanaan sebesar Rp. 43 Miliar dan dikatakan sudah hampir habis. Dia juga mengungkapkan bahwa selama ini tidak laporan terkait pembangunan di Paroki Sang Penebus Sentani.

“Jadi bukan Cuma laporan keuangan saja tetapi Masterplan, Denah, Struktur dan RAP dari pembangunan gereja tersebut hingga saat ini tidak jelas” ucapnya.

Diungkapkannya lagi, yang normal dan wajar untuk pembangunan bangunan seperti itu kalau dikerjakan paling lama hanya memakan waktu 3 bulan dan menggunakan dana kurang dari Rp. 4 Miliar. “Saya bisa buktikan dan orang teknik siapapun akan menilai seperti itu” tuturnya. 

Dirinya menambahkan, seharusnya yang hadir dan memberikan klarifikasi adalah mantan Pastur Paroki Sang Penebus yakni Henrikus Nahak, OFM.

Karena menurutnya Henrikus Nahak bisa menjadi Pastur Paroki Sang Penebus Sentani lantara adanya konspirasi yang dilakukan oleh oknum Ordo OFM sehingga mengorbankan pastur sebelumnya yaitu Pastur Amatus yang sangat disayangi umat hingga meninggal dunia.

“Kedua, tidak pernah berani memperlihatkan rekening koran khas paroki dan rekening koran pembangunan kepada saya, padahal saya adalah mantan Ketua Dewan Paroki Sang Penebus Sentani”.

“Ketiga, tidak lama antara 2-3 minggu terbukti bahwa salah satu rekening gereja dipindahkan ke rekening pribadi milik Pastur Henrik Nahak” ungkapnya.

Paul mengungkapkan lagi, bahwa Pastru Henrik Nahak yang meminta agar konsultan perencanaan untuk menghitung bangunan gereja dengan harga pemerintah permeter persegi.

Aktor kedua yang seharusnya ikut hadir dalam konferensi pers untuk mengklarifikasi pernyaataanya menurut Paul adalah, Ketua Panitia Pembangunan yakni, Yerry. F. Dien.

Katanya, selama Yerry F. Dien menjabat sebagai Ketua Dewan Paroki Sang Penebus Sentani selama kurang lebih sepuluh tahun tidak adanya transparansi dalam hal keuangan.

“Dan ada terjadi kehilangan keuangan kurang lebih Rp. 400 juta bahkan menurut prediski saya jauh lebih dari itu. Dan yang lebih miris lagi akibat hal tersebut bendahara paroki bunuh diri” ungkapnya.

Ditambahkannya lagi, Yerry F.Dien selaku ketua panitia pembagunan gereja yang sudah hampir dua tahun berjalan ini sama sekali tidak ada laporan apapun. Padahal, kata Paul dirinya sudah berkali-kali meminta laporan tersebut, tetapi tidak pernah diberikan oleh yang bersangkutan kepadanya.

Selanjutnya, orang ketiga yang juga perlu hadir untuk memberikan klarifikasi adalah Konsultan Perencanaan yakni Novita. 

“Novita ini perlu hadir karena dia adalah Konsultan Perencanaan dan dia juga umat Katolik, katanya gambar yang dia buat ini gratis padahal dia meminta bagian dari pemborong struktur sebesar Rp. 50.000,- per meter persegi bukti tranfernya ada. Lalu kenapa dia mau menghitung dengan harga pemerintah atau proyek yang per meter perseginya senilai Rp. 7 juta. Ini Harga Kabupaten Jayapura, padahal beliau umat Katolik dan ini rumah Tuhan” katanya.

Namun setelah Paul hitung kembali dari total dana perencanaan sebesar Rp. 43,3 Miliar dibagi luas bangunan yang akan dibangun, kata Paul jatuhnya bukan Rp. 7 juta per meter persegi melainkan kurang lebih Rp. 10 juta per meter persegi.

“Ini gila atau tidak, ini namanya bukan mencuri lagi, tapi namanya merampok di ‘Rumah Tuhan’. Ini kan kelihatan dan mereka harus jawab itu” tukasnya.

Orang terakhir yang perlu hadir dalam konferensi pers kemarin kata Paul adalah Hotwy Gultom. “Kenapa dia juga harus hadir, karena dia adalah Komisi Pertahanan Keuskupan tapi mana ada tanah Paroki Sang Penebus Sentani yang diselesaikannya, yang ada di jual iya” kata Paul.

Paul memberi contoh, sebidang tanah paroki yang ada di sebelah barat pernah bermasalah dengan umat Katolik namun hal itu tidak selesai bahkan di pengadilan mereka kalah.

“Padahal dokumen gereja sangat lengkap soal tanah itu. Ini gereja dan bagaimana mungkin Gereja Katolik bisa kalah dengan umatnya sendiri. Sedangkan saya sewaktu masih menjabat sebgai Ketua Dewan Paroki, disebelah timur itu tanhanya bermasalah dengan Polda Papua tapi saya bisa saya selesaikan dan kembalikan tanah itu yang luasnya kurang lebih 12×80 meter” ungkap Paul.

Hal berikutnya, menurut Paul, yang bersangkutan hanya mampu menjadikan gereja proyek. “Buktinya Gultom dan Pastur Paroki mendesak konsultan menghitung dengan harga proyek itu faktanya. Jadi dia harus jelaskan kenapa itu bisa terjadi” ujarnya,

“Sekarang banya orang yang ingin menjadi pemimpin umat, tetapi tidak bisa menjadi pemimpin iman, karena motivasi mereka bukanlah semangat Misionanris melainkan Misanaris” ucapnya.

“Saya pribadi mengapresiasi, salut dan bangga kepada adik-adik wartawan yang semangat dan idealis. Semoga ini bisa menjadi Vaksin Corona bagi bapak-bapak penyidik sehingga tahan, kuat dan mampu mencari dan mengumpulkan alat bukti lalu segera melimpahkan permasalahan ini ke pengadilan. Kalaupun nantinya mereka bisa menang di pengadilan dunia namun saya yakin tidak akan bisa lolos di pengadilan Allah. Tuhan memberkati” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Gedung Gereja Katolik Sang Penebus, Yeery F. Dien ketika dikonfirmasi lagi tentang apa yang diungkapkan oleh Paul Leo kali ini, dia mengucapkan permohonan maaf karena tidak bisa hadir dalam konferensi pers yang dilaksanakan di lokasi pembangunan gereja lantaran saat itu dirinya tengah memenuhi panggilan dari Satuan Reskrim Polres Jayapura.

“Trimakasih pa infonya. maaf waktu konfrensi pers sayang saya tdk hadir krn ada dipanggil reskrim polres. Saya konsultasi dgn pastor dan dewan paroki serta panitia inti utk tanggapi pa trimakasih” katanya dalam pesan elektronik yang diterima Reportasepapua.com.

Diapun menambahkan, bahwa saat ini semua pekerjaan yang dipermasalahkan oleh Paul Leo sedang dievaluasi oleh DPP (Dewan Pimpinan Paroki).

“Maaf pa terkait apa yg dipermasalahkan oleh paul karena semua pekerjaan panitia dievaluasi oleh dpp dan ketua umum pastor. Berkenan sesuai strata gereja pastor sdh siap menjelaskan trimakasih” tuturnya dalam pesan singkat tersebut. (yurie)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,038FansSuka
2,809PengikutMengikuti
17,800PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles