MULIA, Reportasepapua.com – Akibat Masih Kurangnya pemahaman masyarakat akan informasi mengenai prosedur screening Covid 19, tidak sedikit menimbulkan keresahan sampai palang memalang di instalasi kesehatan yang seharusnya steril dan menjadi zona aman bagi tenaga medis bekerja. Seperti yang terjadi pagi tadi di RSUD Mulia, Selasa (5/5).

Setelah diberikan penjelasan, massa membubarkan diri dan Bupati Puncak Jaya langsung pimpin rapat terbatas khusus tenaga medis/para medis sebagai garda terdepan penanggulangan wabah covid-19.

Membuka ratas, Plh. Sekda Mulyadi, S.Sos, M.AP, M.KP mengakui bahwa kepanikan massa kini merupakan buntut keresahan sosial akan musuh yang tidak terlihat ini. Mulyadi menjelaskan bahwa perhatian pimpinan sebenarnya sangat intens dan sangat memperhatikan perkembangan Covid di Puncak Jaya bahkan sampai terjun langsung mengurusi persoalan detil dilapangan untuk memberi sosialisasi sampai distribusi bantuan sembako.

Bupati Puncak Jaya Yuni Wonda, S.Sos, S.IP, MM juga selaku Komandan Gugus Percepatan Pencegahan Covid-19 Kabupaten Puncak Jaya dalam arahannya menyampaikan rasa terima kasih kepada para tim medis dan paramedis yang ada di Kabupaten Puncak Jaya dengan ketabahan dan kerja kerasnya menjadi garda terdepan untuk melayani masyarakat sehingga sampai saat ini Puncak Jaya masih dalam status hijau.

Trend peningkatan virus ini akan terjadi dalam 3 bulan kedepan menurut Bupati Puncak Jaya selaku Komando Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kabupaten Puncak Jaya harus disikapi dengan mengambil langkah-langkah strategis antisipatif dalam menyikapi perubahan penanganan di wilayahnya.

“kita harus segera menyusun alat-alat apa saja yang dibutuhkan oleh para Tim Medis hingga sarana gedung isolasi yang memadai selain itu semakin langkanya alat-alat medis dan screening saat ini harus diantisipasi. Kita juga perlu hati-hati dalam mendatangkan alat medis karena dijaman sekarang banyak pemalsuan. Adapun kesepakatan kita semua hari ini Rapid test yang digunakan adalah yang bantuan dari Provinsi Papua/pusat agar ada kesamaan dan satu hasil yang valid,” Ungkap Bupati.

Senada dengan hal tersebut, Plh. Sekda berpesan kepada segenap aparatur Tenaga medis agar konsisten dalam menjalankan tugas. “Agar segala kebutuhan karantina bagi petugas yang terkonfirmasi positif direncanakan dengan baik dan berdasarkan skala prioritas. Sumber daya yang ada terbatas, agar tujuan yang dicapai dan tepat sasaran, maka hal-hal tidak mendesak sekiranya tidak disertakan dalam rincian sehingga nantinya kebutuhan itu bukan melulu aparatur mengurusi aparatur,” Tambah Sekda

Plh. Sekda juga berharap agar adanya keterpaduan mekanisme pemeriksaan Covid-19 yang transparan dan reliabel. Dikhawatirkan kesimpangsiuran hasil dapat mengadu domba berbagai pihak dikarenakan multitafsir hasil tes.

Sementara itu Jubir Covid-19 Puja, dr. Muh Nasir Ruki, S.Si, M.Kes, Apt, Sp.GK didampingi dr. Monik, Sp.KK menjelaskan bahwa sebelum ini digunakan 2 merek rapid test dengan sensitivitas dan tentu pembacaan yang berbeda.

Dihadapkan pada terbatasnya tenaga minimnya rekan sejawat dan paramedis yang riskan terpapar langsung dengan pasien, masih ada juga tenaga kesehatan sendiri yang belum memahami persis screening ini. Sehingga pihaknya berharap tenaga kesehatan harus terlebih dahulu memahami baru memberikan pemahaman ke masyarakat.

“Rapid test untuk melihat reaksi antibodi dan dan belum bisa dijadikan acuan diagnosa. Melihat pengalaman di negara terdampak bahkan Swab sekalipun juga masih menunggu kadang sampai 5 minggu baru virus terdeteksi. Hal ini karena Covid cerdas mengkamuflase dirinya sehingga tampak sebagai Virus lain. Reaksinya juga bermavam – macam, akhirnya dianggap sebagai penyakit lain. Inilah yang banyak menyebabkan tenaga Medis ikut tertular sampai MD,” Jelas dr. Monik.

Bupati Yuni juga menyampaikan bahwa masyarakat harus bersyukur karena dokter, mantri dan perawat masih bertahan disini melakukan yang terbaik untuk masyarakat.

“Saya berharap masyarakat jangan ada datang untuk mendemo mereka. Para tim medis juga ini mempunyai keluarga anak istri jadi kita tidak boleh menghakimi mereka, kita harus menghargai mereka karena ini pekerjaan mulia. Ini bukan aib, yang kena covid juga masih bisa sembuh. Kalau mereka tidak mau layani, kita mau kemana?,” ungkapnya.

Bupati meminta semua pihak mau menahan diri, bahwa bukan semua elemen menjadi korban bahkan rencana pembangunan fundamental dan rutinitas pemerintahan menjadi terhambat karena wabah ini.

“Saya berterima kasih kepada masyarakat yang datang untuk bertanya kepada rumah sakit ini, jadi apabila masyarakat sekalian telah paham mohon untuk pulang berikan pemahaman dan lindungi keluarga kita semua dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh protokol kesehatan dan mengikuti aturan pemerintah,” Tutur bupati.

Dalam pernyataan resminya Bupati Puncak Jaya juga mengatakan sampai saat ini keputusan karantina wilayah masih berlaku dan diperpanjang hingga 16 Mei 2020. Untuk penumpang yang di perbolehkan keluar mulia hanya untuk yang direkomendasikan atau telah mendapat persetujuan dari dokter atau Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid 19.

Disinggung soal penerbangan, Bupati telah berkonsultasi dengan Gubernur Papua melalui Vicon yang diterima oleh Plt. Sekprov dan ditanggapi positif. Bahkan beberapa Maskapai langsung menghubungi dirinya untuk menyampaikan kesediaan. Untuk penanggulangan wabah covid di Distrik Ilu dan sekitarnya yang merupakan gerbang masuk darat dari Tolikara ke Mulia sebagai episenteum kedua, Bupati memerintahkan Nelson Wonda, S.KM untuk memperkuat dr. Budi bersama rekan disana.

Disinyalir ada beberapa tenaga medis yang positif rapid test, Bupati Puncak Jaya telah mengantisipasi dengan menyediakan ruang isolasi bagi tenaga kesehatan jika sewaktu-waktu ada tenaga kesehatan yang positif terkonfirmasi covid-19. ” Karantina akan disiapkan, saya perintahkan Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur RSUD mulia untuk segera merencanakan dan mengakomodir keperluan, karena tenaga medis juga prioritas kita,” Jelasnya.

Terkait alokasi dana BPJS sebagaimana arahan Presiden RI, Plh. Sekda masih harus mempelajari mekanisme bersama BPJS Puncak Jaya, kendati demikian saat ini pihaknya masih mendorong Dinas kesehatan dan Pihak RSUD untuk memanfaatkan pos anggaran rutin yang ada guna mengurusi penanganan Covid-19. (rdk/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here